Hijrah (2)

Kawan,
sebelum canda tawa senyuman manis yang kamu lihat ini.

Ada diri yang kehilangan akalnya, lepas kendali sadarnya, sehingga ketika dokter berkata tubuhnya telah terluka.

Ia memilih untuk berhenti dan melepas semua hasil yang sedang diupayakan. Tanpa sengaja merubah dirinya menjadi yang ditinggalkan.

Ketika semangatnya kembali tumbuh, ketika tubuhnya kembali sembuh, semua tak lagi bisa diupayakan.

Ada waktu yang telah disia-siakan, ada masa yang telah dipasrahkan, ada kesempatan yang telah diabaikan.

Meninggalkan diri dengan segudang penyesalan, meninggalkan prestasi dalam bingkai kenangan.

Perlu waktu, usaha pun memang perlu waktu.

Bagaimana bisa aku terus berlari sedangkan aku lupa akan tujuanku sendiri dan lupa mengapa aku harus berlari (?)

Lalu aku memilih untuk kembali ke titik awal, menepi dari hiruk pikuk kegaduhan.

“Bagaimana bisa kita mendengar jernihnya suara hati di tengah hiruk pikuk lalu lintas pikiran?” ~ Gobind V.

Kembali pada kegiatan yang menenangkan hati, menjauh dari ambisi-ambisi, menemukan kembali sisi positif diri, menumbuhkan kembali cinta pada Illahi.

Kemudian inilah yang kamu lihat hari ini. Alhamdulillah, InsyaAllah, pribadi yang hari ini kamu lihat merupakan pribadi yang lebih baik daripada yang dulu kamu temui.

Maret 17, 2018

Teruntuk Suamiku, Mas Faris Ariyanu

Jika aku kata, maka kau adalah prosa. Mengalirkan untaian cerita tentang kita, menyajikan serpihan kisah kita bersama, merapikan kicauan asa bersama cinta, menggenapkan seluruh cinta untuk sang pencipta, menyusun rintihan rindu yang terus jatuh padamu. 💕

Entah mengapa, tapi aku yakin tuhan pun menyukai hati ini jika terus jatuh hati padamu.

Entah bagaimana, tapi aku yakin tuhan pun menyukai diri ini jika menyatakan aku cinta padamu.

Teruntuk suami yang penuh rasa syukur, Mas Faris Ariyanu 💞

Maret 13