Febby – NHW Pra Matrikulasi; Aliran Rasa Studium Generale

2501-2019-0615241221609785621658-01
Febby Noor Fadhillah – NHW Pra Matrikulasi – Aliran Rasa Studium Generale

 

Assalamu’alaikum, sampurasun!

 

Setelah hiatus cukup lama di dunia blog ini, akhirnya saya kembali. InsyaAllah dengan konten yang lebih bermanfaat dan tentunya berbau Institut Ibu Profesional, sebuah komunitas yang baru saja saya ikuti akhir-akhir ini. (Baca- Tugas!)

Alhamdulillah kemarin kami baru saja memulai program matrikulasi dengan kegiatan yang disebut Studium Generale atau dalam Bahasa Indonesia biasa disebut kuliah umum. Sama seperti kuliah umum dalam dunia perkuliahan pada umumnya, kami yang dari kelompok Bandung 2 digabungkan dengan seluruh peserta baik dari dalam tanah air maupun luar negeri sama seperti penggabungan peserta orientasi antar fakultas atau jurusan. Bedanya, jika di perkuliahan digabungkan dalam satu tempat misalnya audiotrium, aula atau gymnasium. Nah, disini kamu digabungkan dalam satu grup telegram yang sama.

Kebayang gak tuh? 

Yang biasanya berkumpul di grup WA, sekarang menyerbu grup telegram. Dari yang biasanya hanya berdiskusi antar 70an kepala, sekarang hampir 3000 kepala. Status ‘**** is typing’ muncul tiada henti setelah grup dibuka. Melihat orang saling bertegur sapa membuat saya ingin ikut serta ambil bagian, akan tetapi setelah menyimak beberapa lama saya pun urung ikut ambil bagian ramah tamah antar ribuan peserta itu. Ada rasa rendah diri yang muncul menyelinap ketika membaca balasan teman lain yang rata-rata tertuju pada teman yang berdomisili di luar negeri, berprofesi dokter atau seorang penulis buku. Sedang diri ini siapa? 

Namun segera ditepis pemikiran sesat itu!

Sebagai seorang stalker akun medsos/kegiatan IIP, saya tahu bahwa ada ribuan alumni kelas matrikulasi di luar sana yang berasal dari berbagai tempat dan memiliki berbagai profesi namun dengan satu tujuan yang sama… untuk menjadi seorang Ibu yang profesional demi masa depan keluarga. Cikal bakal peradaban bangsa.

Saya kembali memperbaiki niat, mengosongkan gelas untuk ilmu baru dan menyisakan ruang dalam hati untuk menumbuhkan semangat yang sempat meredup saat terlambat dalam pemilihan perangkat kelas.

Dan saat itu saya menemukan nama teman-teman yang tak asing; teman satu daerah, teman satu almamater dan teman satu komunitas. Alhamdulillah kami dipertemukan dan disatukan kembali dalam sebuah forum positif. Senang rasanya hati ini, terutama saat melihat nama Host di SG malam pertama. Teh Nani nurhasanah, saya pernah bertemu beliau saat mengikuti seleksi Indonesia Mengajar tahap 2 dan beliau pun ternyata teman dari murrabi saat melingkar di kampus dulu. Begitu membaca namanya, saya semakin yakin bahwa ini komunitas yang InsyaAllah membangun. Angka dari jumlah peserta yang hampir 3000 pun tak kalah membuat semangat makin membahana.

Nyatanya ini bukan tentang perbandingan keberhasilan diri sendiri dan orang lain tapi perbandingan keberhasilan diri kita hari ini untuk mengalahkan keburukan diri kita di masa lalu.

Kuliah umum di mulai dengan tenang sekalipun ada beberapa peserta yang ‘lupa’ mentaati peraturan untuk tidak chat selama materi berlangsung. Memang tidak mudah mengatur ribuan peserta. Oh ya, selama pembukaan tersebut ada beberapa quote yang saya ambil dari sambutan-sambutan yang disampaikan. Di antaranya:

Menjadi yang terbaik, versi anda.” Bu Septi (Founder Ibu Profesional)

“Agar dapat mengenali, memahami dan berdamai dengan diri sendiri… Menjalani prosesnya, menikmatinya dengan bahagia.” Bu Itsnita (Ketua IIP)

“Ibu profesional itu pembelajar sejati!” Bu Handayani (Manajer Matrikulasi)

Kalimat-kalimat sederhana namun membahana tersebut sangat ampuh untuk menjadi pemecut semangat dalam diri. Saya yakin bukan hanya saya tapi peserta lain pun  semakin tidak sabar untuk memulai perkuliahan online ini. Ditambah dengan Matrikulasi Succes stories dari alumni perwakilan setiap bacth-nya. Alumni yang hadir dari berbagai kalangan dengan berbagai pengalaman. Pengalaman yang dipaparkan oleh Bunda Sisyanti, Bunda Sri, Bunda Rustina, Bunda Handiana, Bunda Hessa dan Bunda Rachma semakin meenghidupkan suasana dan menumbuhkan rasa penasaran para peserta, termasuk saya. OK, kisah kasih rusuh ternyata baru dimulai.

Sesi tanya jawab malam pertama memang tidak sekondusif yang kedua tapi justru itu menumbuhkan keakraban di antara kami, peserta Program Matrikulasi batch 7 Bandung 2. Saya pribadi menjadi penanya pertama tepat setelah chat dibuka untuk umum tapi tertutup chat lain, jadi saya terus meng-copy pertanyaan seperti menembakan peluru secara membabi buta. Eh, ternyata… dikarenakan peserta lain pun tak kalah semangat, pertanyaan diulang dengan aturan hanya mengacungkan tangan. Salahnya saya, biar sekalian gitu, setelah menyelipkan emot mengacungkan tangan tersebut saya tetap menuliskan pertanyaan di bawahnya. Dan terpilihlah 3 orang penanya pertama yang ‘hanya’ mengacungkan tangan. Kami pun ramai membahas ini di grup WA kelas, kebetulan ada beberapa teman lain yang bernasib sama.

Setelah 3 pertanyaan tersebut selesai dijawab, salah satu host mengumumkan akan menambah sesi tanya jawab tapi co-host lain sepertinya menutup. Grup telegram pun hening dalam ratusan detik. Tapi disinilah keseruan grup WA ssemakin menjadi, rusuh dan ramai. Keluar perumpamaan di antara diskusi grup WA, akan harapan adanya tambahan waktu untuk sesi tanya jawab tersebut.

“Seperti menunggu hilal halal…”

“Seperti mencari N dalam bungkus permen karet Yosan…”

“Mendapatkan kesempatan bertanya dari ribuan, seperti menunggu hadiah kopi kapal api…”

Dan candaan lainnya yang berhasil mencairkan suasana kelas.

Kemudian hilal itu datang, eh kesempatan maksudnya. Saya dan teman satu kelas lainnya bersiap untuk mengetikan format pertanyaan seperti aturan awal, yang hanya mengacungkan tangan tanpa menuliskan pertanyaan. Setelah pegal memelototi layar HP, saya pun berdiri untuk mengambil roti bakar sebagai pemadam kelaparan akibat terlalu bersemangat untuk bertanya. Daaaaaan chat pun kembali dibuka untuk umum tepat saat saya mengambil roti, duh rasanya seperti sedang menghapus jawaban ujian tepat di saat bel tanda ujian berakhir berbunyi. Kalang kabut!.

Alhamdulillah saya pun berhasil dan menjadi yang pertama mengacungkan tangan tapi ternyata eh ternyata yang dipilih adalah penanya yang sudah menuliskan pertanyaannya, yaaaaa… seperti saya sebelumnya. Belum jodoh memang. Rasanya seperti sakit tapi tak berdarah, sedih tapi justru ingin ketawa. Karena saya memiliki teman sekelas yang senang berguyon dan suasana sedang hangat, jadi saya hanya tertawa kecil dan menceritakannya ke suami. Kemudian saya tulis di grup kelas, “…saya sudah legowo…”.

Alhamdulillah setelah menuliskan itu di grup kelas, bersamaan di wkatu tersebut dalam grup telegram… pertanyaan saya dijawab. Ya, dijawab!!!! Senangnya hati ini, turun panas demamku, eh kok malah nyanyi, ups sorry. Pertanyaan saya memang tidak termasuk pertanyaan yang dipilih oleh moderator malam itu tapi dipilih sendiri oleh Teh Hessa (Saya sampai japri beliau saking terharunya). Jawaban dari Teh Hessa berisi spoiler tugas NHW, jadilah kelas makin ramai karena spoiler tersebut. Berikut ini penggalan jawaban dari Teh Hessa atas pertanyaan saya:

But… selalu ada hikmah baik, senantiasa bersyukur adalah kunci, sehingga saat itu, justru perenungan yang terjadi. …Ada hal baru yang pada akhirnya saya petik. ‘Selesaikan masa lalu’.”

Pertanyaan dan jawaban dari peserta dan alumni lain pun mengandung petuah yang indah dibaca, mudah dipahami dan membuncah di hati. 

Nah, esoknya sedikit berbeda tapi tetap menggema di ingatan.

Kuliah umum malam kedua diisi dengan bedah buku, materinya disampaikan lebih dulu dan pertanyaannya pun ditampung terlebih dahulu sebelum acara dimulai. Sehingga lebih tertib, awalnya. Namun di akhir acara ternyata ada pembagian doorprize, grup telegram pun ramai kembali oleh chat yang datang bertubi-tubi. Temasuk saya, si pemburu doorprize. Tentu semua peserta tertarik ikut serta, siapa yang mampu menolak pesona Buku Antologi Berubah atau Kalah karya para alumni program matrikulasi ini(?).

Setelah hiruk pikuk perebutan doorprize itu, bedah buku pun ditutup dengan closing statemen dari Bu Septi,

Dunia itu berubah dan akan terus berubah. Maka selama memasuki dunia perubahan ini pilihannya hanya dua, kita akan menjadi pembawa perubahan atau yang ikut arus perubahan tersebut.

Setelah mengikuti studium generale ini, ada kesan dagdigdug pakpikpuk dan juga pukpukpuk. Rasa semangat belajar, rasa percaya diri dan rasa kekeluarga kelas seakan terbangun megah dalam satu hari. Semoga kami dapat menjaganya agar tetap berjalan konsisten menuju kebaikan. Menjadi (calon) Ibu Prosesional yang tumbuh karena apresiasi diri akan keberhasilan sesederhana apapun dan menjadi wanita produktif.

Terimakasih kepada Wali kelas (Teh Fanvi), teman-teman sekelas Bandung 2, pengurus IIP, alumni Matrikulasi dan tentu saja panitia acara SG. Saya bangga dapat menjadi bagian dari pembelajar Institut Ibu Profesinal. Semoga nanti pun, saya dapat menjadi alumni yang membanggakan.

 

Salam hangat,

Febby Noor Fadhillah

4 Replies to “Febby – NHW Pra Matrikulasi; Aliran Rasa Studium Generale”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s