Kawan Lama

Kawan baru boleh jadi lebih pandai melihat kebaikan dalam diri kita akan tetapi kawan lama lebih memahami perbaikan yang terjadi dalam hidup kita. Ataupun jika kawanmu yang sekarang sangat mengenal sikapmu, kawan lamamu tetaplah orang yang lebih memahami alasan dari semua sikapmu.

Aku Tahu

Aku tahu, kamu tak akan mungkin membaca ini. Dengan segala daya dan upayaku, aku juga tak akan mungkin mampu membuatmu membaca tulisan aneh ini. Dalam tulisanku, aku mengundang kamu masuk, membiarkan kamu abadi dalam setiap abjad dan kalimat.

Tapi mungkin, jika keajaiban membuatmu bisa membaca tulisan ini, aku hanya ingin bilang; tolong jangan tertawa membaca setiap kalimatnya. Di sini, aku menjadi diriku yang sebenarnya.

~Gytta Ayu

Senja di Minggu Ketiga

Ku lihat punggungmu di balik senja
Berjalan tangguh menopang raga
Ku lihat mentari menengok malu
Dari balik pilar dan dedaunan layu
Teriring musik kesayangan Indonesia
Aku pun menengadah, menatap langit kota
Berbisik pada semilir angin utara
“Biar ku tinggalkan saja … semuanya “
Melepas harapan yang mulai lusuh
Memeluk kenyataan yang kian bergemuruh
21 – 30 Agustus 2016
5 – 6 pm

“Mom, am I going to die?”

images
A little girl : “Am I going to die?”
Her father : “Huh?”
A little girl : “Mom, am I going to die?”
Her mother : “What?”
A little girl : “Am I going to die? Am I going to Die? Am I Going to Die? Am I Going To Die? Am I Going To DIE? AM I GOING TO DIE?”
Her father : “Shin-bi…”
Her mother : “Shin-bi, do you know what dying means?”
Her father : “Se-jin…”
Her Mother : “Do you know what dying means?”
Her grandpa : (…)
A little girl : “I know.”
Her mother : “What does it mean?”
A little girl : “It means I won’t live with you, Mom. It means I’ll never see you again. I don’t want to be apart from you!”
Her mother : (Crying)
Her father : “That’s not true.” (and hug her daughter)
Her grandpa : (Crying behind the door)
~Sad scene in Wonderful Life~
Wonderful Life1

Ibu; Wonderful Life

0a457-ayah-anak
Mungkin benar Wanita itu lemah tapi Seorang Ibu sudah pasti kuat. Kata salah satu tokoh dalam Drama Wonderful Life.
Drama tersebut sudah lama, mengisahkan tentang orang tua muda dengan gadis cilik nan ceria berusia 5 tahun yang divonis mengidap Leukimia. Ya memang kisah klise. Tapi jadi rindu Ibu.
Betapa hebatnya ujian hidup Ibu, seorang wanita muda nan rapuh juga tangguh. Di usia muda, beliau kehilangan gadis sulungnya yang baru saja menginjak usia sekolah karena penyakit populer itu si Leukimia. Ini cerita lama, sengaja diulang-ulang. Agar banyak orang bersyukur dengan keadaannya sekarang.
Bahwa dari sekian banyaknya kisah pengidap Leukimia yang sembuh atau kehidupan singkatnya yang keren, ada seorang Ibu yang menangis diam-diam di salah satu sudut Rumah Sakit. Ada Ibu yang berapa kali pun diingatkan akan hasil terburuk tetap optimis untuk melihat senyum manis anaknya lebih lama. Ya, ada orangtua yang telah menahan lukanya diam-diam.
Saya tidak mampu membayangkan bagaimana beratnya kondisi Ibu saat itu, sekalipun mungkin beliau menunjukkannya dengan ringan. Toh, kenyataan bahwa kita akan kehilangan seseorang yang paling kita cintai itu memang tidak mudah untuk dihadapi. Ok, anggaplah I’m a drama queen, as you wish. Jika selama hidup, belum pernah menemukan kisah seperti ini di keluargamu, sahabatmu atau lingkunganmu. Mungkin kamu salah satu orang yang beruntung atau justru hidupmu kurang menarik :p
Ketika penyakit Ibu diketahui justru setelah beliau meninggal, saya mengerti. Bahwa Ibu tahu rasanya tersiksa dengan kenyataan seperti itu maka beliau tidak ingin anak-anaknya merasakan hal yang sama. Aigooo, baiknya Ibu!
Kalau Ikhlas ya yang diingat haruslah baiknya saja. Sehingga bagi saya Ibu selalu hebat, sekalipun orang lain merasakan yang berbeda 😉
Tulisan ini versi kesekian, sisanya efek ketik-hapus-ketik-hapus yang berakhir sebagai draft.