Untukmu, Sang Pejuang Garis Dua

Ku paham,
ada saat kamu jengah dan ingin membantah. Atau sekadar lelah.

Ku paham,
ada saat kamu lelah dan ingin menyerah. Atau sekadar pasrah.

Ku paham,
ada saat kamu pasrah dan berhenti berharap. Tapi harapmu justru diam-diam melambung tinggi.

Ku paham,
ada saat harapmu seolah mendekat dan memberi semangat. Tapi semangatmu itu justru terpatahkan oleh kenyataan.

Tapi kamu tetaplah wanita baik
Dan juga hebat!

Di saat wanita lain menunda kehamilan, di saat wanita lain memilih kehilangan, kamu tetap dengan fitrahmu sebagai wanita. Memilih untuk menjadi Ibu yang berbahagia.

Meski usahamu belum sampai…
Kamu hebat!

Tidak semua orang kuat untuk mendengar kalimat nasehat dari orang-orang yang jauh, ataupun dekat.

Tentang bagaimana seharusnya kamu mengurangi kegiatanmu, sedangkan kamu bahkan sudah melepas pekerjaanmu.

Tentang bagaimana seharusnya kamu melakukan pengecekan ini dan itu, sedangkan kamu bahkan sudah menghampiri dokter disini dan disitu.

Tentang bagaimana seharusnya kamu belajar dari pasangan lain yang dengan mudahnya menambah anak, sedangkan kamu paham bahwa setiap pasangan itu berbeda.

Dan anak adalah amanah dari Allah SWT, sehingga kamu memilih untuk kembali memohon pada-Nya. Daripada menggantungkan harap hanya pada makhluk-Nya.

Di saat kebahagiaan keluarga lain begitu mudah terlihat di media sosial yang kamu buka ini…

Kamu tetap kuat!

Itu tak cukup kuat untuk meruntuhkan tembok-tembok keimanan yang telah kamu buat.

Ku paham,
kamu ikut berbahagia dengan kebahagiaan mereka.

Ku paham,
kamu pasti yakin bahwa Allah SWT selalu memberimu kebahagiaan, sekalipun bukan dalam bentuk yang selalu kamu dambakan.

Ku paham,
kamu pasti yakin bahwa Allah SWT telah memberimu kebahagiaan, sekalipun mungkin kamu lupakan.

Seorang suami yang masih memilih untuk sama-sama berjuang. Suami yang berusaha tetap kuat bahkan saat melihat wajah sedihmu, di kala garis dua itu tak kunjung menyapamu.

Dan untukmu yang pernah berjuang kemudian terhenti dan harus mengulang…

Aku paham,
mari kita sama-sama berbahagia dan berdoa, semoga Allah SWT memberi kita kesempatan kedua.

Advertisements

Ketika Kamu Memilih Buka Puasa Pertama di Luar Rumah

Blogger Perempuan Network

Assalamu’alaikum,

Sampurasun!

Setelah hampir sebulan, akhirnya saya kembali. Tapi dengan tema yang berbeda, bukan lagi perihal materi-materi dan NHW di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Kali ini, saya ingin berbagi tulisan bertema Ramadhan untuk menyelesaikan misi dari Blogger Perempuan Network.

Tentunya misi-misi dari BPN ini masih sejalan dengan misi-misi di Kelas MIIP kemarin, yaitu untuk menjadi Istri Produktif yang berbahagia 🤓

So, cekidot!

Untukmu yang baru saja berumah-tangga satu atau dua tahun dan kebetulan ndak mudik munggahan, biasanya lebih suka pilih Iftar di rumah dengan masakan andalan sendiri atau di luar ke tempat romantis? Uhuk!

Saya yakin manapun yang dipilih olehmu itu berdasarkan banyak faktor, terutama yang bernilai kebermanfaat.

Kalau saya…

Awalnya memilih di rumah, saya sudah membayangkan belanja pagi ke pasar atau siang ke supermarket dulu. Mau beli bahan-bahan fresh, mau nyoba berbuka ala-ala Rasul. Sayangnya setelah sahur tadi, sebelum shalat subuh, semua makanan keluar lagi. Muntah yang benar-benar memuntahkan semua yang baru dimakan semalam.

Dikasih tawaran sama suami, dilanjut puasanya atau menyerah saja. Ah, saya pilih tidur saja 😂

Jadi, setelah shalat subuh saya ON dan tidur setelah suami berangkat kerja. Bangun sebentar karena suara-suara aneh, hmmm. Tidur lagi, kebangun lagi karena berkeringat. Tidur lagi, bangun lagi untuk shalat dzuhur. Sebuah kegiatan yang ndak masuk TDL Ramadhan H1 🙈 tapi memang sepertinya tubuh ini perlu istirahat tidur lebih lama setelah beberapa hari sulit tidur.

Hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 14.30 WIB. Sekitar 2-3 jam lagi Mas pulang. Singkat cerita perdebatan batin terjadi, saya pilih menyerah saja. Memilih untuk makan masakan luar. Ya, beli gitu…

Eh, eh, eh, Mas menawarkan solusi yang lebih menyenangkan tapi juga merepotkan. Makan di luar, di Cafe favorit, dudududu. Senang tapi juga males, entah sejak kapan, saya mulai perhitungan soal dandan dan pakai baju untuk keluar. Sayang aja gitu waktu, pakaian dan produk yang nanti dihabiskan. Monmap, mulai jadi emak perhitungan.

Masih usaha biar makan di rumah aja, akhirnya saya menghubungi teteh owner makanan favorit yang ala-ala korea itu. Makanan sehat pula, InsyaAllah. Tapi kurang lebih beliau membalas seperti ini:

“Duh, maaf teh. Baru buka lusa, soalnya kalau hari ini mungkin masih banyak yang punya acara keluarga dan udah masak di rumah juga.”

Tertohoklah daku nih!

Yoweis, saya pun terpaksa bersiap memoles wajah dengan sedikit bedak dan highlighter. Agar terlihat seolah berkilau oleh air wudhu 🌛 ditambah khimar yang seadanya. Kata Mas, cuma mau ke Cafe depan. Jadi saat memakai sepatu, Mas minta ganti pakai sendal aja da deket katanya. Terus emak muda nih sewot dong!

“Lah, dikira orang-orang disana nanti paham kalau kita dari deket?”

*Monmap, jangan ditiru.

Setelah shalat Maghrib dan minum Booster Factory yang Almond Matcha, kami pun pergi ke lokasi yang katanya dekat itu dan ternyata… CLOSE.

Haturnuhun owner!

Kami pun menjelajah mencari tempat yang buka. Setelah menemukan satu, kami heran kok tempat seasik ini sepi. “Oh, mungkin pada di lantai 2 ya, Mas!” dengan sotoy-nya saya meyakinkan Mas. Sampai di lantai 2 pun taraaaaaa! Ramai sih tapi ndak seramai biasanya.

Hmmm, lalu tersadar kalau ini kali pertama kami buka puasa pertama cuma berdua dan bukan di rumah keluarga. Menganggap bahwa suasananya akan sama saja dengan hari-hari biasa atau hari-hari Ramadhan lainnya.

Tapi memang perlu googling dulu, ada beberapa tempat yang tutup. Kalaupun ada mungkin sepi. Tapi area Masjid dan pusat kota tetap ramai, katanya.

Ini hal sederhana, lain kali ketika memilih buka puasa di luar rumah, kami mesti kroscek terlebih dahulu.

Sekali lagi, ndak semua resto atau cafe buka di hari pertama. Kalaupun mau di Masjid-masjid besar, tetap perlu dicek situasinya. Apakah kondusif atau tidak?.

Yang pasti, kalau di area pusat kota (lokasi tempat kerja Mas) memang ramai. Tapi apalah daya kami nih yang tinggal di dekat perbatasan Kabupaten/Kota 😅

Monmap untuk tulisan yang ndak sesuai harapan, haturnuhun sudah membaca sampai akhir. Semoga ada satu dua kebaikan yang dapat diambil.

See you! InsyaAllah dengan tulisan yang lebih baik dan bergizi 💕

Mas, Jangan Lupa Peluk Aku!

Mas, pernah di suatu pertengkaran aku meminta untuk berpisah saja. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Lalu kamu bertanya, “Kenapa Yang, kamu capek hidup sama aku?”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Bukan Mas, bukan karena aku lelah denganmu.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tapi aku lelah dengan diriku sendiri. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Saat itu, terlintas dibenakku, betapa hidupmu mungkin saja jauh lebih bahagia jika bukan denganku. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Saat itu, terlintas dibenakku, betapa hidupmu mungkin saja jauh lebih nyaman jika bukan denganku. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Lucu memang, padahal ku dengar orang-orang berkomentar betapa indahnya pernikahan kita. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Betapa irinya mereka, hingga kadang satu dua di antaranya melontarkan komentar yang membuka luka. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Lalu bodohnya, aku makan begitu saja komentar-komentar yang katanya tak sengaja itu. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Padahal boleh jadi setan sedang menertawakan kebodohanku. Karena setan senang dengan pernikahan yang dihantui pertengkaran. Dengan istri yang mulai meragukan kebahagiaan pernikahannya sendiri. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Karena ujian seorang istri memang terletak pada keikhlasan nya. Pada rasa syukur yang justru berbalut kufur (nikmat). ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tapi Mas, terimakasih karena masih memelukku bahkan saat aku tak suka dengan pelukanmu. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Terimakasih untuk menerima setiap kekurangan dan kelebihan diri, juga menerima dengan nyaman setiap perbedaan dan persamaan di antara kita. Yang boleh jadi, tak kita suka. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Ada saat aku menangis karena drama-drama kehidupan yang sudah tak mampu dibenahi, yang sudah jelas-jelas terjadi. Kesalahan masa lalu yang sudah tak bisa kuperbaiki. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dan kamu Mas, selalu mampu memasangkan senyuman manis di wajah ini. Di bawah mata yang katanya selalu sendu.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Mata yang dengan tatapannya ini kadang melukai harga dirimu, mata yang dengan pandangannya ini kadang menenangkan ego dirimu.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Mas, pulang kerja nanti⁣
Jangan lupa peluk aku! ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Karena pelukanmu, menyembuhkan setiap luka dalam diriku…⁣

Febby – Aliran Rasa MIIP Batch 7

Assalamu’alaikum,

Sampurasun!

Alhamdulillah, MasyaAllah, ndak nyangka kelas Matrikulasi sudah mau berakhir. Dan dipenghujung kelas ini, saya ingin mengalirkan rasa yang mungkin sama dengan yang lain, mungkin juga berbeda.

Aliran rasanya saya muat dalam satu video di bawah ini. Namun sebelumnya, saya mohon maaf apabila terdapat banyak kekurangan. Video ini dibuat dalam satu kali take, ada beberapa hal yang belum tersampaikan atau lupa disebutkan. InsyaAllah, tak mengurangi rasa syukur saya atas kesempatan menjadi matrikan batch 7 ini.

Nah, selamat menyimak!

 

Salam hangat, Ibu Profesional!

Febby Noor Fadhillah

Matrikan batch 7

Febby – NHW 9; Bunda sebagai Agen Perubahan

20190327_021050_0001

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar- Rad [13] : 11)

 

Assalamu’alaikum,

Sampurasun!

Alhamdulillah, akhirnya saya dapat keluar dari zona mepeters. Materi pekan ini tentang Bunda sebagai Agen Perubahan yang teramat berdaging dan mendaging. Jadi untukmu yang membaca ini namun belum masuk komunitas IIP, segera daftarkan dirimu di batch selanjutnya! Nih ku kasih spoiler,

“Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.”

~Tim Matrikulasi IIP

Cukup satu kalimat aja ya! Satu kalimat yang pastinya memberimu pemahaman bahwa program ini sepenuhnya bertujuan untuk mendidik perempuan, memperkaya para Bunda dan calon Bunda dengan ilmu, apapun latar belakangnya. Khusus NHW kali ini, ku ndak me-review dulu. Cus, langsung NHW 9 a.k.a NHW pamungkas di bawah ini!

Bunda sebagai Agen Perubahan

Bismillah, kebetulan NHW ini benar-benar sejalan dengan NHW sebelumnya. Dan modal awal yang menjadi pegangan adalah pengalaman, pengetahuan dan pemahaman, tentunya dengan keyakinan akan skenario terbaik dari Allah SWT untuk kita yang dilahirkan ke bumi ini.

20190327_015458_0001

Minat, hobi dan ketertarikan yang dipilih adalah menulis. InsyaAllah, semakin mantap. Kebetulan baru saja mendapatkan email lolos bergabung salah satu program untuk mendukung perkembangan literasi pelajar Indonesia. Alhamdulillah, hal ini menjadi semacam Tipping point, tanjakan keberanian yang diambil sebagai langkah kecil menuju visi awal Arsitek Peradaban; Menebar Kebermanfaatan.

Tentunya semua ide yang ditulis tersebut, tidak dapat saya selesaikan sendiri. Untuk itu sebagai langkah awal, saya berkolaborasi dengan suami untuk membuat program literasi anak dalam bentuk mobileApp atau Web ramah anak. Di NHW sebelumnya, saya memasukan bagian ini di targetan 5-10 tahun ke depan.

Untuk misi terdekat, tentu saja berawal dari mengisi media sosial dengan tulisan positif dan bermanfaat terutama terkait awal pernikahan dan post power syndrome. Karena ternyata, tidak sedikit teman atau keluarga yang mengalami PPS ini. Serta mengajak mereka yang merasakan hal tersebut dan telah berhasil berdamai dengan PPS-nya untuk menuliskan kisah mereka ke dalam sebuah Buku Antologi bertema PPS, sharing is caring.

Rencananya kami akan pindah rumah pertengahan tahun ini, semoga di tempat baru kami dapat membuka teras baca ramah anak untuk membangun budaya literasi dan mengalihkan produktifitas anak dengan membaca. Bismillah!

Sekian NHW 9 ini dituliskan beserta harapan-harapan yang tersemat di dalamnya.

Salam hangat untuk Ibu Profesional!

Febby Noor Fadhillah

Matrikan Batch 7

 

P.S

Terimakasih sudah membersamai hingga NHW pamungkas ini. See you :’)

Febby – NHW 8; Misi Hidup dan Produktifitas

Assalamu’alaikum,

Sampurasun!

Kali ini InsyaAllah tidak pakai panjang kali lebar untuk mengerjakannya dan tidak pula pakai gambar-gambar. Tapi untuk memahaminya, mari kita kembali menengok sejenak Nice Homework yang sudah-sudah:

Nice Homework Pra

Nice Homework 1

Nice Homework 2

Nice Homework 3

Nice Homework 4

Nice Homework 5

Nice Homework 6

Nice Homework 7

Untuk mengerjakan NHW 8 ini, saya perlu menarik garis lurus dan benang merah dari semua NHW di atas. Dan Alhamdulillah, memberi saya gambaran yang lebih jelas untuk diri sendiri. Bismillah

Bagian A20190318_022421_0001

Dari kuadran disamping, saya mengambil Menulis. Sebenarnya ingin mengambil Belajar dengan anak-anak/ Parenting tapi belum sekarang. Jadi, saatnya mengoptimalkan potensi yang ada.

Sesuai dengan Personal Branding di tema bakat, yaitu: Ambassador, Communicator, Creator, Motivator dan Visionary.

Bagian B – Be Do Have

BE, mental yang harus saya miliki, di antaranya:

  1. Pribadi yang pandai mendengarkan dan cerdas dalam menyampaikan.
  2. Berempati, yang bukan dengan memberi tatapan kasihan.
  3. Skeptical thinking, setiap informasi yang didapat harus dikaji kembali.
  4. Integritas, mendahulukan kualitas proses dan hasil ketimbang ‘kuantitas rupiah’.
  5. Bertumbuh, fokus pada perbaikan bukan menyalahkan.
  6. Beralasan untuk menyelesaikan bukan meninggalkan.
  7. Ikhlas, berbahagia dengan upaya terbaik yang sudah diperjuangkan diri sendiri.

DO, yang harus saya lakukan, seperti:

  1. Belajar, dari media manapun dan sampai kapanpun.
  2. Hijrah, memperbaiki diri, bukan hanya pakaiannya tapi juga pemikirannya.
  3. Menulis, dimulai dari yang sederahna di depan mata kemudian di beri makna.
  4. Masuk ke dalam sistem yang memberi asupan positif.
  5. Bersosialisasi, berinteraksi yang bukan hanya sesekali.
  6. Meninggalkan kemalasan dan keraguan.
  7. Menambah jam terbang menulis dengan mengikuti lomba atau antologi.

HAVE, yang akan saya lakukan jika harap sudah terpenuhi:

Berbagi karena Sharing is Caring dan terus meningkatkan kualitas diri.

Bagian C

Lifetime Purpose

Arsitek Peradaban, menebar kebermanfaatan.

Strategic Plan

  1. Media Sosial bersih dari tulisan tidak penting dan tidak bermanfaat.
  2. Menulis buku antologi yang memiliki tema membumi.
  3. Berada di komunitas menulis berlevel internasional.
  4. Menyelesaikan kelas-kelas di Institut Ibu Profesional.
  5. Memiliki anak dan menjadi guru bagi anak di rumah.
  6. Melakukan perjalanan rohani ke tanah suci.
  7. Bekerja sama dengan suami untuk membuat aplikasi ramah anak.

New Year Resolution

  1. Memiliki 10 buku antologi
  2. Mengikuti 5 ajang lomba menulis
  3. Memenuhi media sosial dengan tulisan positif yang bermanfaat.
  4. Mengoptimalkan program hamil.
  5. Melakukan perjalanan ke luar negeri dengan suami.
  6. Menyelesaikan kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional.
  7. Menambah komunitas menulis dan berkontribusi aktif.

 

Sekian jawaban saya terkait NHW 8 yang semoga lebih berisi dan ringkas. Bismillah, harapan yang ditulis di atas dapat terealisasikan bukan hanya sekedar wacana. InsyaAllah, saya  bisa!.

Kita Bisa! Salam Ibu Profesional!

Febby Noor Fadhillah

Matrikan Batch 7

Febby – NHW 7; Tahapan Menuju Bunda Produktif

20190318_014736_0001

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

(QS. Hud [11] : 6)

Assalamu’alaikum,

Sampurasun!

Alhamdulillah mengakhiri pekan ketujuh ini dengan lebih produktif, sebuah tahapan perkembangan diri hasil kali  bagi ilmu-ilmu yang di dapat pada NHW sebelumnya. Dan kali ini, kita akan bertemu NHW lainnya yang juga sederhana tapi sarat makna. Untuk mengawalinya, saya ingin berbagi kenikmatan syukur atas hadiah yang Allah SWT berikan. Di NHW sebelumnya, saya sudah menuliskan targetan dan desain pembelajaran yang sesuai dengan saya. Dan tanpa sengaja terlaksana lebih cepat. Setiap kalimat yang disampaikan Ibu Septi kembali terdengar seolah sedang mengetuk diri yang hampir saja lupa dengan visi misinya sendiri. Minggu ini saya belajar lebih produktif tanpa sengaja, bertepatan dengan keikutsertaan sebagai panitia acara KOPDAR, pertemuan beberapa deadline menulis baik antologi mandiri maupun lomba menulis, kegiatan melingkar di lingkungan rumah, acara dadakan dari kawan dekat, urusan domestik yang bertambah hingga urusan komunikasi dengan suami.

Bagi sebagian orang boleh jadi  semua hal tersebut teramat biasa tapi bagi saya yang selalu memiliki banyak waktu luang untuk suami, tetiba lebih banyak waktu dengan orang lain, sangat mungkin menimbulkan ketidaknyamanan. Ditambah targetan menulis yang biasanya satu bulan satu kali, satu minggu satu kali , menjadi dua hari sekali. Lumayan membuat lelah berpikir terutama disaat tubuh dalam kondisi kurang maksimal. Namun, saya menyadari satu hal bahwa saya akhirnya dapat kembali mengingat lelah dan bersemangatnya saya sebelum menikah terutama masa kuliah dulu. Bukankah artinya saya sedang kembali menjadi produktif?

“Ketika kita berjalan pada jalan hidup kita, maka kita tidak akan mencari peluang. Peluanglah yang akan mencari kita.” ~Ibu Septi

Adapun beberapa masalah yang timbul di masa adaptasi ini, InsyaAllah satu persatu sudah terselesaikan. Dan saya menjadi pribadi yang kembali fokus pada penyelesaian bukan lagi bertanya, “Kerjain gak ya?”. Saya kembali menjadi pribadi yang takut kehilangan kesempatan bahkan hingga detik terakhir. Setidaknya beberapa minggu ini dan semoga terus berkembang menjadi sikap yang lebih positif. Sesuai dengan desain pembelajaran yang dipilih di NHW sebelumnya, permasalahan dirumuskan berdasarkan pengalaman kemudian mempelajari kembali materinya untuk menemukan bagian yang dapat direfleksi.

nhw 7-1
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

“Tugas seorang Ibu bukanlah mengkhawatirkan rezeki keluarga kita, melainkan menyiapkan sebuah jawaban dari mana dan untuk apa semua karunia yang sudah diberikan Allah ke kita, anak-anak dan keluarga kita. Maka di Institut Ibu Profesional, bunda produktif tidak selalu  dinilai dengan uang dan rupiah melainkan dinilai dari sebuah nikmat atas kepuasan hidup dan pengakuan terhadap diri kita bahwa kita memang bermanfaat untuk banyak orang.” ~Ibu Septi

Capture

Materi pekan ini tentang Rezeki itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari dengan kalimat penutup dari Ibu Septi, “Selamat menjemput rezeki dengan benar!“. Dari awal membaca kutipan di atas, barangkali ada yang berprasangka bahwa seolah-olah Ibu Profesional itu adalah wanita yang tidak memiliki hak untuk memperjuangkan karirnya di luar rumah.

Namun bukan itu yang dimaksud, saya sengaja tidak menyampaikan semua isi materi yang berdaging ini disini. Untuk lengkapnya, teman-teman dapat bergabung dengan kelas Matrikulasi batch berikutnya 🙂 Eh, atau sudah ya? 😀

Intinya baik di dalam maupun di luar rumah, baik sendiri atau dengan delegasi, yang terpenting urusan domestik selesai. Serta amanah sebagai Ibu tetap menjadi prioritas utama. Ibu, itu loh Sang Manajer Keluarga dan Sang Pembelajar Sejati!.

Adapun manfaat menjadi produktif, yaitu:

  • Menjalani hidup penuh makna
  • Meningkatkan rasa percaya diri
  • Memiliki gairah hidup
  • Meningkatkan daya tahan tubuh
  • Semakin ‘selesai’ dengan diri
  • Memberikan manfaat untuk banyak orang termasuk keluarga

“Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita
berada. Sang Maha Memberi Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju
diri kita.” ~Tim Matrikulasi IIP

Lalu apa keterkaitan antara Materi ini dengan NHW 7?

Di NHW ini, kita perlu memahami bakat yang kita miliki dan kegiatan yang membuat mata kita berbinar-binar, serta menimbulkan perasaan senang saat mempelajarinya. Dengan begitu, kita dapat masuk di ranah produktif dengan bahagia. Ingat gengs! Rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari. Dengan menjadi produktif itu artinya kita sedang memuliakan potensi yang telah di berikan Allah SWT untuk memenuhi peran kita lahir di muka bumi ini.

screencapture-mbti-anthonykusuma-hasil-enfp-2019-03-17-22_28_47
Tes Kepribadian MBTI

Untuk NHW ini saya mengikuti 2 tes yang sebenarnya sudah pernah saya ikuti di NHW sebelumnya. Namun saya sengaja mengikuti ulang untuk mengkonfirmasi kemungkinan akan mendapatkan hasil tes yang berbeda. Saya mengerjakan dengan lebih teliti, dengan sepenuhnya menghilangkan gengsi dan jujur pada diri sendiri. Kemudian hasil yang didapat ternyata hampir sama.

Pertama saya mencoba Tes Kepribadian MBTI dengan 3 kali tes (jawaban ada yang berubah) dan menghasilkan jenis kepribadian yang sama yaitu ENFP . Dalam hal ciri-ciri, saya perlu mengakui kebenarannya namun merasa kurang tepat di bagian memahami kebutuhan orang lain. Seringnya merasa terlambat atau gagal memahami yang sebenarnya diperlukan orang lain dalam kondisi tertentu. Perihal saran dan profesi yang cocok pun sudah sangat sesuai. Dari masa sekolah, saya memang ingin menjadi konselor dan psikolog bahkan sudah masuk di salah satu univ untuk jurusan tersebut namun belum takdirnya. Biaya masuk yang sudah disimpan Alm. Kakek dan Alm. Nenek harus dipakai untuk biaya operasi. Dan akhirnya saya masuk jurusan bidang pendidikan dan pernah menjadi pengajar. Saat di Univ dan bekerja pun saya nyambi sebagai MC. Kini, saya masih berusaha memaknai kesesuaian bakat dan pengalaman yang dimiliki untuk dapat menjadi Ibu Profesional.

st30 1
https://temabakat.com/id/
screencapture-temabakat-id-index-php-main-result-2019-03-17-22_52_58
https://temabakat.com/id/

screenshot_2019_0224_142635-e1551037768769

Tes kedua yang diikuti tentu saja dari Temu Bakat. Sama halnya dengan yang pertama, hasil tes ini bukanlah hasil satu kali tes. Saya mengkonfirmasi 3x namun tidak menyimpan yang pertama, kebetulan yang kedua pernah saya pakai di NHW sebelumnya jadi masih saya simpan. Dari gambar di atas dan di samping dapat dilihat ada perubahan hasil tes namun secara garis besar masih sama. Narasinya pun masih sama. Tapi bagian kelemahannya berbeda.

Yang lucu disini adalah urutan Personal Branding yang hampir sama persis, bagian yang berbedanya pun berada di urutan yang sama. Entah, mungkin memang begitulah cara kerjanya ^^

Untuk kekuatan dan kelemahan di tes sebelumnya lebih merata dari pada tes yang terakhir. Tes terakhir di foto bagian atas.

Dari 3x tes tersebut dapat dilihat bahwa Personal Branding yang tidak berubah yaitu Ambassador, Communicator, Creator, Motivator dan Visionary.

Sedangkan yang masih mungkin kurang tepat yaitu Educator, Selector, Interpreter dan Synthesizer.

 

nhw 7

 

 

Mari kita konfirmasi satu persatu!

 

 

 

Untuk Personal Branding yang sama, setelah 2x tes ulang.

(Sabar ya teteh-teteh^^)

1

Barangkali hal diatas terbentuk dari kegiatan sekolah, kuliah dan bekerja. Semasa sekolah dulu aktif di kegiatan OSIS, PASKIBRA dan Rohis. Masa kuliah aktif di kegiatan BEM, UKDM dan Protokoler. Saat bekerja menjadi perwakilan untuk kegiatan workshop atau seminar. Sehingga terbiasa untuk cepat berbaur dengan perwakilan sekolah, kampus atau instansi lain ketika melakukan kegiatan bersama. Hal tersebut pun terbawa sampai sekarang, tanpa sadar mempromosikan barang atau jasa teman dan terkadang  tanpa sadar mempromosikan Bandung atau yang baru-baru ini tanpa sadar mempromosikan kelas online yang diikuti, tentu saja IIP salah satunya. Sehingga seringkali mendapatkan pertanyaan ini itu dari teman-teman yang tertarik. Bukan promosi seperti sedang menjual tapi dengan melihat kegiatan kita yang positif, atau pembawaan kita yang menarik, membuat orang-orang ingin belajar atau berkegiatan yang sama.

2

 

Hmmm kalau soal ini, sudah jelas sepertinya memang begitu 😀

Ya, ini terkait konfirmasi di Tes kepribadian MBTI juga. Karena saya mengambil kelas khusus Sains untuk SD, saya belajar untuk menyampaikan inti pembelajaran yang kompleks menjadi materi yang sederhana. Serta kegiatan sebagai MC kegiatan mahasiswa yang perlu berburu dengan waktu, saya pun dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan efektif dan efisien.

3

Saat kecil hingga usia sekolah, saya senang matematika dan membuat denah rumah. Sempat bermimpi menjadi arsitek juga tapi semakin dewasa saya lebih menyuka kata daripada angka. Boleh jadi creator disini sebenarnya bermaksud seperti Content Creator.

4

Selain karena pekerjaan saya sebagai guru (dulu), mungkin juga karena bawaan sebagai Wakil Ketua Osis, Koordinator Protokol kampus, panitia di beberapa acara dan istri dari suami saya. Memotivasi menjadi kebutuhan pokok karena salah satu tugas seorang leader adalah menggerakan hati anggotanya untuk turut serta mengupayakan tercapainya tujuan bersama, menyemangati siswanya agar bergerak menuju pencapaian yang lebih baik. Dan menurut saya, sebaik-baik seorang istri adalah yang pandai mengapresiasi. Serta saya pernah tuliskan di NHW sebelumnya, 2x berturut-turut pernah mendapat predikat Panitia Paling Menginspirasi. Duh, jadi sombong nih 😀 Walaupun sebenarnya kurang pandai memotivasi diri sendiri.

5

Ya…. konfirmasi ini jelas hanya butuh satu kejelasan. Saya senang menghayal. Dan di setiap pelatihan kepemimpinan yang diikuti memang setiap pribadi harus mampu memimpin dirinya sendiri untuk menembus batas dari hayalannya sendiri. Eh eh eh, tapi sekarang malah saya sendiri yang lupa :p

Dari kelima Personal Branding di atas dan STRENGHT yang dimiliki menurut tes ini, saya memang akan lebih bahagia saat berkegiatan bersama orang lain. Dan sesekali menyendiri. Tapi sudah lama, kegiatan bersama orang lain itu berkurang.

Nah, untuk mengecek kembali bakat dan kegiatan yang dapat membuat kita menjadi Bunda Produktif yang Bahagia, mari lihat bagan di bawah ini!

20190318_022421_0001

Alhamdulillah, kuadran 1-3 semuanya dapat diupayakan untuk dinikmati dan dikembangkan. Begitupun di kuadran 4, boleh jadi satu tahun ke depan isi kuadran 4 pindah masuk ke kuadran 1-3.  Sebenarnya  mengisi kuadran no. 4 adalah yang tersulit, sepertinya semua bagian itu tetap harus di pelajari walaupun tidak ahli. Sedangkan kuadran 1-3, InsyaAllah akan terus dikembangkan sembari memaknai peran lahir di bumi ini.

Sekian penjabaran dari saya, semoga sampai maksudnya. Dan terimakasih sudah membaca sampai sini, semoga ada makna yang dapat diambil.

Salam hangat dari saya yang masih masuk tim H-1,

Febby Noor Fadhillah

Matrikan Batch 7